Apakah semua bayi yang rewel menderita kolik infantil?

Apakah semua bayi yang rewel menderita kolik infantil?

Seringnya bayi menangis tanpa sebab yang jelas menimbulkan masalah bagi orang tua maupun bagi pengasuh bayi (yang dimaksud pengasuh disini adalah anggota keluarga lain maupun baby sitter). “Oh jangan-jangan bayi masih laper nih” seringkali hal ini diutarakan sebagai penyebab tangisan meskipun sudah diberi ASI. Pemikiran tersebut kerap mendorong orang tua ataupun pengasuh memberikan makanan padat lebih dini atau susu formula sebagai tambahan makanan untuk bayi.1,2 Orangtua pun sering menanyakan keluarga lainnya terutama kakek dan nenek dari bayi, namun tidak jarang mereka menjawab hal tersebut adalah normal dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dalam banyak kasus, orangtua atau pengasuh menganggap bayi sedang merasakan sakit perut, alasan ini lah yang membuat bayi disangka memiliki gangguan pencernaan fungsional padahal belum ada bukti ilmiah bahwa bayi menangis karena sedang merasakan sakit perut atau sakit di anggota tubuh lain.1 Nah apakah semua bayi rewel dianggap menderita kolik infantil? Tanya Gizi akan menjelaskannya lebih detail.

 

Kolik infantil adalah keadaan dimana bayi seringkali menangis, merengek, ataupun rewel tanpa ada penyebab yang jelas, terjadi secara persisten pada usia kurang dari 5 bulan (dari mulai gejala dimulai sampai gejala berhenti). Ya, bayi termasuk kolik infantil apabila ibu/pengasuh tidak dapat menemukan penyebab bayi menangis/merengek/rewel. Ciri penting lainnya adalah, bayi susah sekali ditenangkan.

Dalam menentukan diagnosa Kolik Infantil harus memenuhi semua kriteria ROME IV, yaitu:

  • Usia bayi di bawah 5 bulan ketika keluhan dimulai dan berhenti
  • Terdapat periode menangis, rewel atau gampang marah (irritable) yang berulang atau memanjang, yang tidak dapat dicegah maupun diselesaikan oleh pengasuh, serta tanpa sebab yang jelas
  • Bayi tidak mengalami demam, suatu penyakit, atau dalam keadaan gagal tumbuh (failure to thrive)1,2
kolik infantil tanya gizi
 kolik infantil lebih sering terjadi pada bayi usia 0-4 bulan

Seberapa Sering Bayi Mengalami Kolik Infantil ?

Prevalensi terjadinya kolik infantil di dunia sebesar 5-25% dan lebih sering terjadi pada bayi berusia 0 – 4 bulan.2,3 Prevalensi kolik infantil pada bayi yang mendapat ASI eksklusif dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula sama besarnya, begitu pula pada bayi dengan berat badan lahir lebih rendah dibandingkan bayi dengan berat lahir normal.2 Sehingga bisa disimpulkan bahwa kejadian kolik infantil tidak dipengaruhi oleh jenis susu yang dikonsumsi bayi maupun berat lahir bayi.

Menurut Worldwide Survey and Expert Consensus pada tahun 2014, prevalensi kolik infantil mencapai angka 20%, hal ini bisa disimpulkan bahwa 1 dari setiap 5 bayi di seluruh dunia mengalami kolik infantil, dan ini merupakan angka kejadian yang cukup tinggi.3 Meskipun demikian, belum banyak orang yang memahami sebenarnya apa itu kolik infantil.

Apa Tanda dan Gejala Bayi dengan Kolik Infantil ?

Kolik infantil lebih sering terjadi pada bayi usia 0 – 4 bulan. Kolik infantil bukan suatu penyakit, secara umum bukan keadaan yang bahaya, dan biasanya akan hilang sendiri pada usia 3 – 4 bulan pada bayi lahir cukup bulan, namun pada bayi yang lahir prematur biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama. Secara umum, waktu puncak gejala akan timbul dalam 4-6 minggu, kemudian akan menghilang secara bertahap dalam 12 minggu. Gejala yang dimaksud akan dijelaskan secara lengkap pada paragraf di bawah ini).1,2

Gejala klinis utama dari kolik infantil adalah tangisan keras yang berlebihan dan persisten, kebanyakan terjadi pada sore hari atau menjelang malam. Satu episode kolik dapat berupa:

  • Bayi menangis / merengek secara terus menerus dalam waktu lama sampai akhirnya berhenti sendiri
  • Bayi menangis / merengek dalam waktu singkat (hitungan detik) kemudian berhenti, dengan jeda yang singkat bayi akan kembali melakukan hal yang sama; pola ini akan berulang beberapa kali sampai akhirnya berhenti agak lama (hitungan detik – menit).

Episode kolik seringkali berulang dalam satu hari, beberapa ahli dahulu menyebutkan bahwa total episode kolik bisa mencapai 3 jam/hari. Dalam setiap episode, bayi akan terlihat rewel, gampang marah, atau seperti kesakitan; bayi menekuk lutut; mukanya merah; serta sering mengalami perut berbunyi (borborygmus).4

Bayi yang menangis biasanya akan berhenti menangis dengan cara digendong sambil ditepuk-tepuk 1-3 kali per detik, dalam suasana tenang atau digendong sambil diayun teratur. Pada bayi dengan kolik infantil, gerakan-gerakan tersebut dapat menenangkan bayi sesaat, namun tangisan bayi akan tetap berlanjut saat bayi diletakkan kembali.1 Kolik infantil timbul pada bayi tanpa kelainan organik (kelainan organik adalah kelainan pada organ tubuh tertentu, misalnya pada otak, jantung, saluran pencernaan, dsb).

Bagaimana Cara Mengatasi Bayi Dengan Kolik Infantil ?

Ketika timbul pertanyaan dalam hati “Jangan-jangan bayi saya menderita kolik infantil?” berdasarkan penilaian gejala klinis,  sebaiknya konsultasikan pada dokter spesialis anak terdekat atau yang Anda yakini. Secara umum, tidak ada obat yang dapat menyembuhkan kolik. Dokter spesialis anak akan mencari apakah ada kelainan yang mendasari (hanya 5-10% kasus kolik infantil yang disebabkan oleh penyakit tertentu). Bila ada, akan ditangani sesuai kelainan-nya. Perbaiki teknik pemberian ASI / susu formula, dan atau makanan. Berikut ini adalah daftar penyakit penyebab kolik tersering:

Alergi protein susu sapi

Patut dicurigai bila ada riwayat penyakit alergi pada bayi maupun keluarga dekat (ayah, ibu, paman, bibi, nenek, kakek). Dugaan ini diperkuat dengan timbulnya ruam (kemerahan) dan bersisik pada kulit bayi, terutama pipi. Pada bayi yang mendapat ASI, ibu dianjurkan untuk menghindari konsumsi susu sapi dan olahannya, misalnya keju, yoghurt, mentega, dll. Pada bayi yang mendapat susu formula, dianjurkan penggantian menjadi susu formula dengan protein terhidrolisis. Bila penyebabnya adalah alergi protein susu sapi, maka gejala kolik akan jauh berkurang.

Intoleransi laktosa

Biasanya bayi sering kentut berlebihan, tinja lebih cair dengan bau asam, perut kembung dan kulit di anus dan sekitarnya berwarna kemerahan. Pada bayi yang mendapat ASI, usahakan bayi untuk minum ASI lebih lama (tidak sering terpotong-potong). Pada bayi yang minum susu formula dengan gejala kolik berat, dapat diberikan formula bebas laktosa untuk sementara waktu. Penyesuaian ini dapat membantu mengurangi gejala kolik.

Penyakit refluks gastroesofageal (PRGE)

Dicurigai pada bayi yang sering ‘gumoh’, tanda bahaya PGRE apabila didapatkan muntah berwarna coklat atau merah gelap, gagal tumbuh, sulit atau menolak makan (pada bayi yang sudah besar). Ibu dianjurkan untuk membuat bayi sendawa setelah menyusu, dengan cara menggendong bayi pada posisi agak tegak selama beberapa saat. Bayi dianjurkan tidur dalam kemiringan 30-45o dengan posisi kepala lebih tinggi. Dapat pula diberikan formula yang dipekatkan untuk menghindari refluks (aliran balik isi lambung ke mulut).2,3,4,5,6

 

Beberapa penelitian telah menunjukkan manfaat pemberian probiotik (bakteri baik; biasanya dalam kemasan drops atau sachet) dalam menurunkan frekuensi menangis pada bayi dengan kolik infantil. Pihak peneliti mengungkapkan belum ditemukan efek samping dalam penggunaannya. Strain bakteri yang paling banyak digunakan adalah Lactobacillus reuteri DSM 17938. Pemberian probiotik dapat dijadikan pertimbangan, namun bukan rekomendasi utama tatalaksana (kolik infantil); maka sebaiknya pemberian probiotik dilakukan setelah berkonsultasi dengan dokter anak.2,4

kolik infantil tanya gizi
hal yang paling utama dalam pencegahan kolik infantil adalah menjaga hubungan ibu dan bayi  yang harmonis

Meskipun demikian, hal yang paling utama dalam pencegahan dan penatalaksanaan kolik infantil adalah menjaga hubungan ibu dan bayi  yang harmonis. Para ahli telah menduga hubungan ibu – bayi yang tidak harmonis menyebabkan kolik infantil. Hubungan yang renggang antara ibu dan bayi dapat menurunkan kecerdasan intelektual, sosial dan emosional bayi, hal ini menyebabkan efek jangka panjang yaitu penurunan tingkat kecerdasan dan gangguan psikologis di masa dewasa. Menangis tidak selalu merupakan respon nyeri bayi, tetapi lebih kepada bentuk komunikasi bayi dengan pengasuh.

Pengasuhan anak dengan interaksi yang baik, pemberian pola makan yang baik dan memberikan pelukan pada anak saat tidur mengurangi gejala (kolik infantil). Ibu yang merasa anaknya rewel dapat merasa cemas sampai frustasi, cenderung mudah melampiaskan amarahnya, dan berpotensi melakukan kekerasan pada bayi.  Ibu perlu diberikan waktu istirahat yang cukup untuk menghindari frustasi dan depresi; ketika frustasi, ibu akan meragukan kemampuan mereka dalam mengasuh anak, sehingga ibu cenderung menarik diri dari anaknya. Maka jelaslah bahwa empati dan dukungan dari suami dan kerabat terdekat adalah hal yang terpenting. 2,3,4,5,6

Sehingga bisa kita simpulkan bahwa Kolik infantil secara umum bukanlah keadaan yang bahaya, dan biasanya akan hilang sendiri pada usia 3 – 4 bulan, namun dapat menyebabkan ibu frustasi, serta mendorong terjadinya kekerasan pada bayi. Ibu dapat berkonsultasi pada dokter spesialis anak untuk mencari penyebab kolik. Menjaga hubungan ibu dan bayi yang harmonis adalah hal yang utama dalam penanganan Kolik infantil.

 

Daftar Pustaka

  1. Benninga, M, Nurko, S, Faure, C, et al. 2016, ‘Childhood Functional Gastrointestinal Disorders: Neonate/Toddler’, Gastroenterology 150, hh. 1443–1455.
  2. UKK Gastrohepatologi, 2016, Rekomendasi Gangguan Saluran Cerna Fungsional, Badan Penerbit IDAI, Jakarta.
  3. Vandenplas, Y, Abkari, A, Bellaiche, M, et al, 2015, ‘Prevalence and Health Outcomes of Functional Gastrointestinal Symptoms in Infants From Birth to 12 Months of Age’. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition 61, nomor 5, hh: 531-537.
  4. Vandenplas, Y, Alarcon, P, Alliet, P, et al, 2015, ‘Algorithms for managing infant constipation, colic, regurgitation and cow’s milk allergy in formula-fed infants’, Acta pediatrica.
  5. Firmansyah, A. 2015. Kolik pada Bayi (Bagian 1 dan 2). Diakses dari idai.or.id pada 1 Agustus 2018.
  6. Deshpande, P, Wagle, S, Cuffari, C, et al. 2017. Colic Treatment & Management. Diakses dari emedicine.medscape.com pada 1 Agustus 2018.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *